Блог О пользователеalvarezmercer08

Регистрация

 

Pengertian Aqiqah Menurut Agama Islam


Dari segi bahasa ‘Aqiqah artinya: memotong. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang beserta penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan jika aqiqah ialah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada pula yang mengeluarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang terjumpa pada penyelenggara si bayi ketika ia keluar atas rahim pangkal, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk momongan yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk balita laki-laki serta 1 termuda untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: "Semua anak balita tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. " [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan bocah perempuan satu kambing. " [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak tersebut tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. " [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: "Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh karena itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua huru-hara darinya. " [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan wahid kambing. " [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, sira memberi seri dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)". [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak bab 4, hal. 264]

Pemberitahuan: Hasan & Husain merupakan cucu Rasulullah SAW.

Daripada Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Patut, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: "Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. " [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Norma Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, "Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)". (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

"Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya kotoran (Maksudnya potong rambut rambutnya). " (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataan: "maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan" adalah titah, namun tak bersifat tetap, karena siap sabdanya yang memalingkan atas kewajiban yaitu: "Barangsiapa diantara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, jadi silakan lakukan. " (HR: Ahmad, Serbuk Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: "ingin menyembelihkan,.. " merupakan dalil yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu laksana layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh di dalam aqiqah tersebut hewan yang picak, renyah, patah tulang, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam satwa aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami dalam masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan menggores kepalanya secara darah kibas itu. Maka setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, memotong (menggundul) oknum si momongan dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud bagian 3, sesuatu. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, "Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bocah, mereka menconteng kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu saat mencukur rambut si momongan mereka mengurapkan pada kepalanya". Maka Rasul SAW menitahkan, "Gantilah kadim itu dengan minyak wangi".[HR. Pelerai demam Hibban dengan tartib Ibnu Balban bagian 12, hal. 124]

Menunaikan aqiqah dari segi kesepakatan getah perca ulama ialah hari ketujuh dari kelahiran. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW berfirman, "Seorang budak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama". (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak pun, maka di hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) buat dasar panggilan, maka takut-takut menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah sedang. Karena rukun ajaran Islam adalah mempermudah bukan mengalutkan sebagaimana tutur Allah SWT: "Allah menodong kemudahan bagimu dan tidak menghendaki pertengkaran bagimu". (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Rasul SAW, yang artinya: "Setiap anak ini tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi nama. " (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan apabila tidak sanggup melaksanakannya di hari ketujuh, maka siap dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan apabila tidak bisa, maka di hari ke dua puluh satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah atas ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: "Hewan aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, ke empat belas, serta ke 2 puluh satu. " (Hadits hasan tambo Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih bukan mampu oleh sebab itu kapan saja pelaksanaannya pada kala sudah biasa mampu, sebab pelaksanaan saat hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan di dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama tak wajib. Serta boleh pun melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Budak yang meninggal dunia pra hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun balita yang keguguran dengan tata sudah berusia empat tarikh di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si momongan. Namun kalau seseorang yang belum pada sembelihkan hewan aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, jadi dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan apabila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal ini tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kelahiran. Jika bukan bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika gak bisa juga, maka pada hari kedua puluh mono. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi pikulan ayah.

Namun demikian, bahwa ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri di saat dewasa. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, "ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? " Imam Ahmad menyangkal, "Menurutku, bila ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh sebab itu lebih elok melakukannya seorang diri saat mendalam. Aku gak menganggapnya makruh".

Para saudara Imam Syafi’i juga mereken demikian. Pikir mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal adalah satu sudut baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Putra Abbas ra: "Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain wahid domba satu domba. " (Hadits shahih riwayat Duli Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kita harus pulih bahwa Patut dan Husain adalah budak kembar. Menjadi pada wahid kelahiran itu disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih terpenting adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan 1 termuda untuk anak perempuan berlandaskan hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: "Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor domba dan mulai anak dara satu termuda. " (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang memiliki arti: "Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor sedia yang seimbang dan mulai anak perempuan satu ekor. " (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang bani

1. harga aqiqah bandung Disunnatkan untuk melepaskan nama serta mencukur sabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir pada hari Ahad, ‘aqiqahnya rontok pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang bagi anak cewek 1 upaya.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan kepada orang tua si anak, akan tetapi boleh pula dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah Ataupun Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di dalam kondisi sudah dimasak. Hadits Aisyah ra., "Sunnahnya dua ekor kibas untuk bani dan wahid ekor kibas untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh". (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan gelandangan miskin pula bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim. Lagi pula jika hal itu dimaksudkan untuk mempesona simpatinya dan dalam rajah dakwah. Dalilnya adalah panduan Allah, "Mereka memberi menjarah orang rendah, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang". (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu merupakan orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga juga boleh menghancurkan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa menjamu apakah megak atau putri, sebagaimana babad di lembah ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia tahu bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka petuah beliau SAW, "Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak dara satu sudut kambing. Tidak menyusahkanmu bagus kambing tersebut jantan ataupun betina". [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan abdi belum memperoleh dalil lainnya yang menunjukkan adanya satwa selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Rasul SAW berlandaskan dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 per kelahiran keturunan tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Tentang hal dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat serta tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang teman-teman dan kerabat untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya & memasaknya kemudian mengundang manusia yang engkau lihat layak diundang dari kalangan macam, tetangga, teman2 seiman serta sebagian orang faqir untuk menyantapnya, & hal sedarah dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi bahwa ada hubungan antara arti sebuah sebutan dengan yang diberi pamor. Hal ini ditunjukan dengan adanya sekitar nash syari yang memproklamasikan hal itu.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: "Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya". (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: "Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama ini diambil mulai makna-maknanya". Meski anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: "Siapa namamu? " Aku balas: "Hazin" Rasul berkata: "Namamu Sahl" Hazn berkata: "Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku" Pelerai demam Al-Musayyib mengatakan: "Orang itu senantiasa bergaya keras lawan kami setelahnya". (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan merupakan nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Atas Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: "Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku". (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik menurut ajaran Islam, silahkan fraksi:

Memberi Sebutan Bayi alias Anak Secara Islami

Menjatuhkan Rambut

Mencukur rambut ialah anjuran Rasul yang sangat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, "Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur". (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Lembut dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat serat tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan beserta rata; gak boleh seharga mencukur sekitar kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin —insya Allah- semakin besar pula sedekahnya.

Ciri Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan sebutan Allah, ya Allah terimalah (kurban) atas Muhammad dan keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. " (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk anak ini secara kalimat Yang mahakuasa Yang Baik dari sekalian gangguan syaitan dan sindiran binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat buruk bagi apa pun yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pikir Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di satu situs memiliki beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Di aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir ini, dan berikut sesuai dengan makna hadits, yang mempunyai: "Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. " [3]. Dengan demikian Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih tersembunyi dari sindiran syaithan yang sering mengocok anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sambil Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah "bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sama aqiqahnya".

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari rekapitulas. Sebagaimana Kepala Ahmad menyebarkan: "Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)".

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud merasai syukur buat karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menunjukkan rasa gembira dalam mengerjakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan masih banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas kembali dari kitab "Ahkamul Aqiqah" karya Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, beserta judul "Aqiqah" terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]


 

Для ответа с цитированием необходимо
выделить часть текста исходной записи